Revitalisasi Kota Tua Jakarta, Anies Baswedan Wujudkan Ruang Ramah Pejalan Kaki

10 Sep 2025  | 789x | Ditulis oleh : Penulis
Anies Baswedan

Kota Tua Jakarta selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Kawasan bersejarah yang dipenuhi bangunan bergaya kolonial ini bukan hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga saksi perjalanan panjang ibu kota. Namun, selama bertahun-tahun kawasan ini menghadapi tantangan serius: jalan yang semrawut, kurang ramah pejalan kaki, hingga minimnya kenyamanan publik. Di masa kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berusaha menjawab persoalan itu melalui program revitalisasi Kota Tua.

Langkah ini bukan hanya sekedar mempercantik tampilan fisik kawasan, melainkan juga mewujudkan visi kota yang lebih manusiawi, inklusif, dan ramah pejalan kaki. Dengan berbagai kebijakan yang diambil, Anies menjadikan Kota Tua sebagai salah satu contoh bagaimana ruang publik bisa dikembalikan fungsinya untuk warga.

Revitalisasi Kota Tua di masa Anies Baswedan berfokus pada peningkatan kenyamanan serta keamanan pengunjung. Area yang sebelumnya dipadati kendaraan bermotor kini diubah menjadi kawasan pedestrian yang luas dan terhubung. Jalan-jalan yang dahulu macet oleh parkir liar kini dialihkan, memberi ruang lega bagi pejalan kaki untuk berjalan dengan aman dan nyaman.

Salah satu perubahan signifikan terlihat di sekitar Taman Fatahillah. Kawasan yang dulunya penuh kendaraan kini menjadi ruang publik terbuka, lengkap dengan bangku, penerangan yang baik, serta akses ramah disabilitas. Anies menekankan bahwa setiap orang, tanpa terkecuali, berhak merasakan manfaat ruang kota.

Selain itu, jalur sepeda juga ditata agar masyarakat memiliki pilihan transportasi ramah lingkungan ketika mengunjungi Kota Tua. Upaya ini sejalan dengan tren dunia yang mendorong kota-kota besar untuk lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.

Revitalisasi ini bukan hanya proyek fisik. Anies Baswedan selalu menekankan filosofi bahwa kota harus dirancang untuk manusia, bukan semata-mata untuk kendaraan. Baginya, kota yang baik adalah kota yang warganya bisa berjalan kaki dengan nyaman, berinteraksi sosial, dan menikmati sejarah serta budaya yang ada di sekitarnya.

Ia juga kerap mengingatkan bahwa ruang publik adalah simbol kesetaraan. Di Kota Tua, orang dari berbagai latar belakang baik wisatawan asing, pelajar, pekerja, maupun pedagang kecil—bisa bertemu dan berbagi pengalaman. Dengan memperkuat fungsi ruang publik, Anies ingin memastikan Jakarta tidak hanya menjadi kota yang sibuk secara ekonomi, tetapi juga hidup secara sosial dan kultural.

Hasil dari revitalisasi ini cukup terasa. Kota Tua menjadi semakin populer sebagai destinasi wisata. Jumlah pengunjung meningkat, dan para pelaku UMKM di sekitar kawasan pun ikut merasakan dampak positif. Warung, toko cinderamata, hingga penyedia jasa wisata lokal mendapat peluang ekonomi lebih besar.

Selain itu, kawasan yang lebih tertata juga memberikan rasa aman dan nyaman. Penerangan jalan yang baik, area pedestrian yang luas, dan pengaturan lalu lintas yang lebih terkontrol membuat pengalaman berkunjung menjadi lebih menyenangkan. Banyak keluarga yang kini lebih sering mengajak anak-anak mereka berkunjung untuk menikmati suasana sore di Kota Tua tanpa harus khawatir dengan lalu lintas kendaraan.

Bagi komunitas seni dan budaya, revitalisasi ini juga membuka ruang baru untuk berekspresi. Berbagai pertunjukan musik jalanan, pameran seni, hingga kegiatan budaya lokal semakin sering digelar, menjadikan Kota Tua sebagai pusat aktivitas kreatif yang semarak.

Meskipun kepemimpinan Anies Baswedan di Jakarta telah berakhir, hasil dari kebijakan revitalisasi Kota Tua tetap dirasakan hingga kini. Ruang ramah pejalan kaki yang ia dorong telah menjadi standar baru dalam pembangunan ruang publik di Jakarta. Kawasan ini kini menjadi ikon perubahan yang menunjukkan bahwa dengan visi yang tepat, kota bisa dibangun untuk manusia, bukan sekadar untuk kendaraan bermotor.

Revitalisasi Kota Tua juga memberi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Konsep menata ulang kawasan bersejarah agar lebih ramah pejalan kaki dan mendukung aktivitas publik bisa menjadi model yang diterapkan di banyak kota. Dengan begitu, sejarah dan budaya tidak hanya dijadikan monumen mati, tetapi benar-benar menjadi bagian hidup dari keseharian masyarakat.

Revitalisasi Kota Tua Jakarta yang dilakukan oleh Anies Baswedan merupakan salah satu contoh nyata bagaimana kepemimpinan dapat meninggalkan jejak positif melalui kebijakan yang berpihak pada masyarakat. Ia berhasil menghadirkan ruang publik yang inklusif, ramah pejalan kaki, serta mendukung pelestarian budaya dan sejarah kota.

Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, program ini adalah wujud nyata dari visi kota manusiawi—di mana masyarakat bisa berjalan, berinteraksi, dan menikmati ruang bersama dengan aman serta nyaman. Kota Tua kini bukan hanya sekedar destinasi wisata, tetapi juga simbol perubahan menuju Jakarta yang lebih bersahabat bagi semua warganya.

#Tag
Artikel Terkait
Mungkin Kamu Juga Suka
RajaKomen
Scroll Top