Hijaukan Bumi, Program Rehabilitasi dan Reboisasi di Jawa Timur

9 Okt 2025  | 178x | Ditulis oleh : Penulis
Dinas Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup di Jawa Timur menghadapi berbagai tantangan serius seperti kerusakan lahan, degradasi hutan, erosi, banjir, dan perubahan iklim. Untuk memulihkan kondisi tersebut, pemerintah provinsi Jawa Timur bersama lembaga negara, swasta, dan masyarakat lokal menyelenggarakan rangkaian program rehabilitasi hutan dan reboisasi. Tujuannya bukan sekadar penanaman pohon, tetapi pemulihan fungsi ekologis hutan, menjaga kualitas air dan tanah, memperkuat ketahanan bencana, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

https://dlhjawatimur.id/ menjadi salah satu sumber informasi penting yang mendorong transparansi dan partisipasi publik dalam berbagai upaya penghijauan. Melalui situs ini, masyarakat dapat mengakses data mengenai status pemulihan lahan, peta lokasi reboisasi, hingga proyek kolaboratif yang sedang berjalan. Dengan sistem informasi tersebut, upaya rehabilitasi menjadi lebih terbuka, dapat diawasi bersama, dan semakin banyak warga yang tergerak ikut menanam pohon di wilayahnya masing-masing.

Jawa Timur dikenal memiliki keragaman ekosistem yang luas, mulai dari kawasan pegunungan, pesisir, hingga hutan tropis. Namun, kerusakan lahan di beberapa daerah terus meningkat akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim. Lahan kritis yang kehilangan tutupan vegetasi kini menjadi ancaman serius bagi stabilitas lingkungan. Setiap musim hujan, risiko banjir dan longsor meningkat karena daerah hulu sudah tidak lagi mampu menahan limpasan air. Oleh karena itu, rehabilitasi dan reboisasi menjadi langkah strategis untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem.

Program rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di wilayah Jawa, termasuk Jawa Timur, menjadi bagian penting dari Rencana Umum Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RURHL) 2022–2032. Dalam konteks ini, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama. Pemerintah, dinas kehutanan, akademisi, Perhutani, perusahaan swasta, dan masyarakat lokal bekerja sama untuk menanam dan memelihara pohon hingga benar-benar tumbuh lestari.

Beberapa contoh nyata bisa ditemukan di berbagai daerah. Di Kabupaten Blitar, lahan kompensasi milik PT Pertamina EP seluas 148 hektare telah direhabilitasi melalui penanaman ribuan bibit pohon seperti sukun, trembesi, pinus, balsa, petai, dan alpukat. Di Bondowoso, PT Bumi Suksesindo (BSI) melakukan reboisasi di lahan seluas 314 hektar sebagai bagian dari komitmen terhadap tanggung jawab lingkungan. Sementara itu, di wilayah Perhutani KPH Purwodadi, masyarakat sekitar ikut serta dalam persemaian bibit jati dan tanaman keras lainnya untuk mendukung ketersediaan bibit unggul yang tahan terhadap kondisi lokal.

Kesuksesan program penghijauan tidak hanya bergantung pada jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga pada strategi sosial dan teknis yang diterapkan. Pelibatan masyarakat menjadi faktor penting agar hasil rehabilitasi dapat bertahan lama. Banyak desa hutan kini diberi kesempatan untuk mengelola lahan melalui sistem agroforestri, di mana warga bisa menanam tanaman kehutanan bersama tanaman pangan seperti kopi, kakao, dan sayuran. Pendekatan ini tidak hanya menjaga tutupan lahan, tetapi juga meningkatkan ekonomi keluarga petani.

Diversifikasi jenis tanaman juga menjadi strategi yang efektif. Alih-alih hanya menanam satu jenis pohon, program reboisasi kini memperkenalkan tanaman multipurpose (MPTS) seperti durian, petai, jengkol, dan alpukat. Tanaman-tanaman tersebut memberi manfaat ekonomi sekaligus menjaga keragaman hayati. Dengan demikian, masyarakat terdorong untuk menjaga pohon yang mereka tanam karena hasilnya dapat dirasakan langsung dalam jangka panjang.

Namun, di balik berbagai capaian tersebut, masih ada tantangan besar yang harus dihadapi. Kerusakan lahan akibat pembukaan hutan untuk pertanian dan penebangan liar masih terjadi di beberapa daerah. Selain itu, keterbatasan dana dan sumber daya manusia untuk pemeliharaan jangka panjang juga menjadi kendala utama. Perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrim membuat sebagian bibit sulit bertahan hidup di lapangan. Masalah kepemilikan dan konflik lahan pun tak jarang menghambat keberlanjutan program.

Untuk mengatasi hal ini, berbagai strategi dilakukan. Pemerintah dan lembaga terkait memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang cara menanam dan merawat pohon dengan baik. Skema insentif juga diterapkan, seperti memberikan hak pengelolaan hasil hutan non-kayu kepada masyarakat yang aktif menjaga tanaman. Teknologi konservasi seperti sistem irigasi mikro dan penggunaan mulsa diterapkan untuk menjaga kelembaban tanah di musim kering. Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas pembalakan liar diperketat agar hasil reboisasi tidak kembali rusak.

Dampak positif dari program rehabilitasi dan reboisasi mulai terasa di berbagai wilayah Jawa Timur. Tutupan lahan hijau meningkat, kualitas udara membaik, dan sumber air mulai pulih di beberapa daerah pegunungan. Masyarakat desa pun mulai merasakan manfaat ekonomi dari hasil tanaman seperti buah, madu hutan, dan wisata alam. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan juga meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang kini aktif mengikuti kegiatan tanam pohon dan edukasi lingkungan.

Salah satu contoh nyata adalah kegiatan “Reboisasi Sejuta Pohon” di Kabupaten Tuban yang melibatkan berbagai instansi pemerintah dan masyarakat. Ribuan pohon sengon, balsa, dan trembesi ditanam di lahan kritis, dengan harapan mampu memperkuat struktur tanah dan mengurangi risiko longsor. Aksi nyata ini menunjukkan bahwa jika dikerjakan bersama-sama, penghijauan dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar.

Ke depan, Jawa Timur diharapkan menjadi provinsi percontohan dalam pelaksanaan rehabilitasi dan reboisasi yang berkelanjutan. Diperlukan peningkatan anggaran, pemanfaatan teknologi digital untuk pemantauan tanaman, serta kemitraan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas lingkungan. Pendidikan lingkungan di sekolah juga penting agar generasi muda memahami pentingnya menjaga alam sejak dini.

https://dlhjawatimur.id/ menjadi wadah yang tepat untuk menginformasikan berbagai program penghijauan dan membuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut berpartisipasi. Melalui semangat gotong royong dan kepedulian terhadap alam, kita dapat mewujudkan bumi yang lebih hijau, lestari, dan sehat bagi generasi mendatang.

#Tag
Artikel Terkait
Mungkin Kamu Juga Suka
RajaKomen
Scroll Top